Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2012

Goa Garba

Di Daerah Kabupaten Gianyar memang terdapat banyak sekali wisata sejarah yang menyimpan banyak misteri seperti stupa kuno dan berbagai macam benda sejarah lainnya. Dari demikian banyak tempat tempat wisata sejarah yang ada di Gianyar, Goa Garba merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sangat fantastis dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Goa Garba merupakan salah satu peninggalan purbakala sama seperti peninggalan arkeologi lainnya yang ada Gianyar. Goa ini terletak di Banjar Samigunung, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Bali.

Goa Garba berada dibawah Pura Agung Pengukur-ukuran. Goa ini adalah sebuah ceruk pertapaan yang dipahat pada dinding tepi jurang sungai Pakerisan, untuk mencapai cagar budaya ini kita harus terlebih dahulu turun melewati gapura yang tangganya tersusun rapi dan terbuat dari batu kali. Di tengah-tengah antara tangga yang terbuat dari susunan batu kali tersebut terdapat bekas telapak kaki manusia yang konon menurut cerita adalah telapak kaki yang membuat tempat pertapaan itu sendiri yaitu Kebo Iwa, seorang yang memiliki kesaktian yang mandraguna. Diatas Goa Garba terdapat beberapa kolam dan pancuran dimana pada sisi salah satu kolam tersebut sebuah lubang masuk menuju goa. Di lokasi Goa Garba terdapat sebuah tulisan yang dipahat berbunyi “ Sra’. Goa Garba ini sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin melakukan meditasi.

Goa Garba diperkirakan dibangun sekitar abad 12 Masehi pada masa pemerintahan Raja Jayapangus, ini berdasarkan prasasti yang terdapat pada Pura Pengukur-ukuran. Demi tetap terjaganya kebersihan Goa Garba ini dikerjakan oleh enam orang yang telah mengabdi selama bertahun-tahun dilokasi cagar budaya ini. Penduduk sekitar Goa Garba ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, namun ada juga yang bekerja sebagai buruh dan karyawan. hal ini bisa terlihat saat menuju lokasi banyak sawah terbentang dimana Goa Garba ini berada. Untuk mendukung sektor kepariwisataan, saat ini dilokasi Goa Garba terdapat pelataran parkir yang luas. Untuk sampai ke objek wisata Goa Garba ini diperlukan waktu lebih kurang 50 menit atau kira-kira 34 km perjalanan dari Kota Denpasar Bali bila menggunakan kendaraan bermotor.

Bagi anda yang berwisata ke Bali dan ingin melihat peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terawat sampai saat ini, Goa Garba ini merupakan tempat yang harus anda kunjungi. Anda akan melihat keindahan ukiran-ukiran dinding-dinding batu yang menawan.

 

 

 

Read Full Post »

 

Untuk anda yang suka dengan barang-barang antik atau barang-barang seni yang berkualitas bagus, anda bisa mengunjungi Desa Belga dan Desa Bona. Disini anda akan melihat banyak sekali berbagai macam kerajinan tangan yang terbuat dari bambu seperti Kursi, Meja Makan, Lampion, Tempat Tidur, dan banyak lagi yang lainnya. Semua hasil seni kerajinan bambu tersebut merupakan hasil olahan tangan terampil dan kreativitas seni masyarakat Desa Pakraman Belega.

Desa Belega dan Bona merupakan dua desa wisata yang sudah terkenal di kalangan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. Kedua desa ini berada di dalam satu kecamatan yaitu kecamatan Blahbatuh yang termasuk wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Desa Belega berlokasi di dalam kecamatan Blahbatuh, sedangkan Bona merupakan Dusun atau Banjar yang berada di dalam wilayah Desa Belega. Untuk mencapai kawasan desa wisata Belega dan Bona ini dapat ditempuh melalui 2 jalur yaitu jalur pertama dari kota Gianyar ke arah selatan yang berjarak hanya 3 km. Sedangkan jalur kedua dari barat yaitu jalan ke timur dari perempatan Blahbatuh menuju ke arah desa Belega dan desa Bona. Dari ibukota Denpasar untuk menuju kedua desa tersebut hanya berjarak sekitar 30 km dan sangat mudah untuk ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua karena sudah ditunjang dengan kondisi jalan yang bagus.

Sebagai daerah tujuan wisata, desa Belega adalah desa wisata yang terkenal sebagai pusat kerajinan dari bambu antara lain seperti kursi, tempat tidur, meja hias, lemari, hiasan lampu, dan banyak lagi yang lain sebagainya. Sedangkan desa Bona terkenal sebagai pusat kerajinan yang terbuat dari daun lontar. Setiap harinya desa Belega dan desa Bona selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung di kedua desa ini untuk membeli ataupun memesan terlebih dahulu kerajinan bambu dan kerajinan daun lontar tersebut untuk keperluan rumah tangga atau untuk keperluan hotel dan restoran, serta untuk keperluan lainnya.

Di desa Belega, kebanyakan masyarakatnya bergerak di bidang industri rumah tangga dengan membuat kerajinan-kerajinan yang terbuat dari bahan bambu, antara lain berupa perlengkapan berbagai macam hiasan-hiasan, meubel, furniture, dan peralatan lainnya yang pemasarannya selain untuk di dalam negeri juga diekspor ke mancanegara. Sedangkan di dusun Bona, setiap pengunjung atau wisatawan yang datang dapat menyaksikan masyarakat dusun Bona dalam membuat kerajinan yang terbuat dari daun lontar, di antaranya berupa kipas, topi, tas, sandal, keranjang, hiasan-hiasan pohon natal dan lain sebagainya. Di samping itu, Bona juga terkenal dengan pertunjukkan seni tarinya. Pagelaran seni tarinya diawali dengan Tari Kecak yang mengambil ceritera Ramayana. Setelah pertunjukkan tari kecak akan digelar pertunjukkan kedua yaitu Tari Sang Hyang Dedari yang ditarikan oleh 2 orang gadis kecil dalam keadaan tidak sadar diri (trance). Pertunjukkan yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran yang dilakukan seorang laki-laki yang menari sambil menendang bara api yang sangat besar dengan kaki telanjang.

Menurut catatan sejarah, asal-usul keberadaan desa Belega dan desa Bona ini tidak terlepas dari sejarah Blahbatuh sebagai wilayah kecamatan kedua desa tersebut. Sekitar abad ke-17, pada waktu pemerintahan Dalem Ketut yang memiliki beberapa patihnya yang sangat terkenal, dan salah satunya adalah Ki Kebo Iwo yang berkedudukan di Blahbatuh, Gianyar. Sebutan nama wilayah Blahbatuh pada waktu itu belum muncul, kemudian setelah Ki Kebo Iwo inilah nama Blahbatuh menjadi dikenal karena Ki Kebo Iwo memiliki kesaktian yaitu sangat kebal dan tangguh sehingga tidak dapat dikalahkan oleh setiap musuh-musuhnya. Kata Blahbatuh itu sendiri berasal dari kata Bala dan Batu. Bala yang mempunyai arti rakyat dan Batu yang berarti kuat. Kata Bala Batu inilah yang langsung diartikan bahwa rakyat pernah dipimpin oleh seorang yang sangat kuat dan terkenal serta berkantong tebal yaitu Ki Kebo Iwa, yang berkedudukan di Blahbatuh. Desa Belega pada waktu itu belum muncul, mengingat wilayah desa Belega tersebut masih dikuasai oleh Bala Batu (Blahbatuh). Terbukti sampai dengan saat sekarang ini dikenal dengan adanya sebutan Blahbatuh Tuwe, yang di antaranya adalah Desa Buruan, Desa Blahbatuh, Desa Belaga, Desa Saba, dan Desa Pering. Sedangkan untuk nama desa Belega sebenarnya berasal dari kata-kata Bala Aga, yang mempunyai arti Bala adalah rakyat dan Aga yang berarti asli. Sehingga Bala Aga ini mencerminkan kebenaran daripada keaslian penduduk yang menyatakan bahwa Belega adalah asli penduduk Blahbatuh yang sampai sekarang masih di bawah Kecamatan Blahbatuh dan Dusun Bona masih termasuk di dalam wilayah Desa Belega.

Untuk mencapai Desa Belega dan Bona anda membutuhkan waktu sekitar 40 menit jika ditempuh dari Kota Denpasar. Di Sekitar Desa ini juga terdapat banyak tempat wisata lain yang tak kalah menarik seperti Goa Gajah dan wisata peninggalan-peninggalan sejarah dari Kerajaan Bali tempo dulu. Selamat berwisata.

 

 

 

 

Read Full Post »

Di Bali memang kaya akan seni dan budaya, tak hanya itu Pulau Bali juga menyimpan banyak sekali sejarah yang adi luhung ada yang sudah diamankan di museum ada juga yang masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.  Salah satunya adalah berupa ratusan rangka manusia dan bekal kubur yang diperkirakan hidup pada akhir masa prasejarah dengan ciri – ciri ras Mongoloid. Dengan adanya penemuan tersebut maka upaya Pemerintah Kabupaten Jembrana untuk menyelamatkan dan mengabadikan penemuan tersebut dari tangan – tangan tidak bertanggung jawab adalah dengan membangun sebuah museum yang dinamakan Museum Manusia Purba Gilimanuk yang terletak di ujung barat Pulau Dewata yaitu di kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.

Museum Manusia Purba Gilimanuk didirikan sejak tahun 1993 dan diresmikan oleh Gubernur Bali saat itu Prof. Ida Bagus Oka. Dalam Museum Manusia Purba Gilimanuk ini terdapat total koleksi sebanyak 210 buah yang diantaranya 137 buah penemuan berupa kerangka manusia purba dan 73 buah koleksi lainnya berupa gelang dari kayu dan kerang, manik – manik, periuk kecil, tempayan, kendi, mangkuk dari tanah, mata kail, tajak dan sarkofagus. Museum Manusia Purba ini dibangunan dengan tiga lantai, yaitu pada lantai satu terdapat sarkofagus dan kerangka manusia purba. Setiap kerangka manusia purba yang termasuk ras Mongoloid biasanya ditemukan dalam bentuk posisi tubuh yang menyerupai bayi dalam kandungan yang dikaitkan dengan kepercayaan saat itu dimana kehidupan manusia terdiri dari tiga siklus yaitu lahir, hidup, dan mati.

Pada lantai dua Museum Manusia Purba terdapat tajak perunggu yang digunakan untuk pertanian, berburu dan dijadikan sebagai bekal kubur. Tajak ini juga disertai dengan manik – manik, gerabah dan kapak yang dipakai sebagai bekal untuk berburu. Tajak perunggu ada dua jenis yaitu berbentuk jantung dan berbentuk lonjong. Sedangkan pada lantai tiga Museum terdapat perlengkapan dapur seperi gerabah, piring, kerang serta aksesoris seperti manik – manik dan anting.

Nah, dengan adanya Museum Manusia Purba ini sudah pasti menambah kekayaan objek wisata di Jembrana. Pada hari biasa mungkin Museum Manusia Purba ini sangat jarang ada yang mengunjungi. Namun jangan dianggap remeh, kalau di hari liburan (kenaikan kelas) sangat banyak murid – murid SD maupun SMP yang berkunjung ke Museum Manusia Purba Gilimanuk ini. Sekedar untuk merayakan kenaikan kelas, namun juga dapat menambah wawasan mereka tentang sejarah nenek moyang kita. Museum Manusia Purba ini juga bisa dijadikan objek penelitian. Perlu diketahui Museum Manusia Purba Gilimanuk ini beroperasi pada jam kerja dan tutup pada hari sabtu dan minggu. Bagi anda para wsatawan yang ingin berkunjung ke museum ini anda tidak diharuskan untuk membayar tiket masuk ke dalam museum. Namun bila anda ingin menyumbang untuk museum ini juga bisa.

Selain itu, Kabupaten Jembrana juga mempunyai beberapa tempat wisata yang tidak kalah menarik dari tempat wisata lain seperti Taman Nasional Bali Barat, Pantai Medewi, Pura Rambut Siwi, Dll. Selamat Berwisata.

 

 

 

Read Full Post »

Bagi anda yang suka berpetualang di alam bebas dan menikmati keindahan alam disekitar beserta habitatnya, anda bisa mendapatkan pengalaman yang berkesan ini dengan mengunjungi Taman Nasional Bali Barat. Kawasan Taman Nasional Bali Barat ini terletak di Jl. Raya Cekik Gilimanuk, Jembrana. Taman Nasional ini terdiri dari habitat hutan dan savanah yang mempunyai sekitar 160 spesies flora dan fauna langka yang dilindungi.Kita dapat menjumpai berbagai macam hewan seperti rusa,lutung,banteng dan juga Jalak Bali yang terancam punah.

Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Bali yang memiliki ekosistem asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung Curik Bali (Leucopsar rothschildi, streesman 1912). Taman Nasional Bali Barat dengan luas kawasan 19.002,89 Ha yang terdiri dari 15.587,89 Ha berupa wilayah daratan dan 3.415 Ha berupa perairan yang secara administratif terletak di Kabupaten Jembrana dan Kab. Buleleng. Taman Nasional Bali Barat dikelola dengan sistem zonasi, TN. Bali Barat terbagi menjadi beberapa zona diantaranya : Zona Inti seluas ± 8.023,22 Ha, Zona Rimba ± 6.174,756 Ha, Zona perlindungan Bahari ± 221,741 Ha, Zona Pemanfaatan ± 4.294,43 Ha, Zona Budaya, Religi dan Sejarah seluas ± 50,570 Ha, Zona Khusus ± 3,967 Ha dan Zona Tradisional seluas ± 310,943 Ha. Taman Nasional Bali Barat dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan, penelitian, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Pada tanggal 24 Maret 1911 seorang biologiawan dari Jerman, Dr. Baron Stressman yang terpaksa mendarat karena kapal Ekspedisi Maluku II rusak di sekitar Singaraja selama ± 3 bulan, menemukan burung Jalak Bali sebagai spesimen penelitiannya di sekitar Desa Bubunan ± 50 Km dari Singaraja. Kemudian pada tahun 1025 dilakukan observasi intensif oleh Dr. Baron Viktor von Plesen, atas pendapat Stressman yang melihat Jalak Bali sangat langka dan berbeda dengan jenis lain dari seluruh spesimen yang dia peroleh, dan diketahui penyebaran Jalak Bali hanya mulai Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk seluas ± 320 Km2.

Untuk melindungi keberadaan spesies yang sangat langka yaitu burung Jalak Bali dan Harimau Bali, berdasarkan SK Dewan Raja-Raja di Bali No.E/I/4/5/47 tanggal 13 Agustus 1947 menetapkan kawasan hutan Banyuwedang dengan luas 19.365,6 Ha sebagai Taman Pelindung Alam / Natuur Park atau sesuai dengan Ordonansi Perlindungan Alam 1941 statusnya sama dengan Suaka Margasatwa. Kawasan hutan Bali Barat dipandang memenuhi syarat untuk pengembangan hutan tanaman dibandingkan dengan bagian lain di Propinsi Bali (Menurut Brigade VIII Planologi Kehutanan Nusa Tenggara Singaraja, Tahun 1974). Sehingga sejak tahun 1947/1948 sampai dengan 1975/1976 di RPH Penginuman telah dilakukan pengembangan hutan tanaman dengan jenis Jati, Sonokeling, dan rimba campuran seluas 1.568,24 Ha. Tahun 1968/1969 sampai dengan 1975/1976 dikembangkan hutan tanaman Kayu Putih dan Sonokeling di RPH Sumberkima serta pada tahun 1956/1957 di RPH Sumberklampok telah dilakukan penanaman Sawo Kecik, Cendana, Bentawas, Sonokeling, dan Talok seluas 1.153,60 Ha. Dalam pelaksanaan penanaman ini dilakukan perabasan dan eksploitasi beberapa jenis hutan evergreen Sumberrejo dan Penginuman dan tebang pilih hutan alam Sawo Kecik di Prapat Agung.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDh Tk. I Bali No. 58/Skep/EK/I.C/1977 tahun 1977 tanah Swapraja Sombang seluas 390 Ha ditambahkan ke dalam kawasan sebagai pengganti kawasan yang terpakai untuk pembangunan Propinsi Bali dan kemudian SK Menteri Pertanian No. 169/Kpts/Um/3/1978 tanggal 10 Maret 1978 menetapkan Suaka Margasatwa Bali Barat Pulau Menjangan, Pulau Burung, Pulau Kalong dan Pulau Gadung sebagai Suaka Alam Bali Barat seluas 19.558,8 Ha. Adanya konflik kewenangan di dalam kawasan TNBB, dimana pengelolaan HPT seluas 3.979,91 Ha adalah kewenangan Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sehingga berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995 tanggal 15 September 1995 luas Taman Nasional Bali Barat hanya sebesar 19.002,89 Ha yang terdiri dari 15.587,89 Ha wilayah daratan dan 3.415 Ha wilayah perairan sampai sekarang.

Sudah terbayang bagaimana anda akan berpetualang menikmati keindahan Taman Nasional Bali Barat yang seluas 19.002,89 Ha dengan berbagai macam keindahan flora dan fauna yang langka? anda akan mendapatkan pengalaman yang begitu fantastis karena selain berwisata alam anda juga akan diajak kembali untuk mengenal sejarah Pura yang ada disekitar dan mengenal berbagai macam flora dan fauna yang sudah tergolong langka.

 

 

 

Read Full Post »

Taman Ujung

Taman Ujung adalah obyek wisata sejarah yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Taman Ujung adalah warisan kerajaan Karangasem yang mempunyai nilai sejarah sangat tinggi. Obyek wisata ini berada di kawasan Ujung termasuk wilayah desa Tumbu, kecamatan Karangasem, kabupaten Karangasem. Disini anda akan melihat keindahan bangungan dengan arsitektur Bali yang digabung dengan arsitektur Eropa.

Obyek wisata ini didirikan tahun 1919, pada masa kerajaan Karangasem yang dipimpin oleh Raja I Gusti Bagus Djelantik yang lebih dikenal dengan nama Agung Anglurah Ketut Karangasem. Namun sebelumnya sudah dibangun kolam Dirah oleh raja Karangasem pada tahun 1901, yang awalnya dipergunakan sebagai tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap bisa ngeleak. Lalu kolam tersebut ditambah dengan dua kolam lain dan juga dibangun beberapa tempat peristirahatan. Selain itu, dibangun pula Persemedian Raja dan Bale Kambang (Taman Gili). Pembangunan Taman Ujung dilakukan untuk dijadikan tempat peristirahatan dan tempat untuk menjamu tamu-tamu penting yang berkunjung ke kerajaan Karangasem. Pada tahun 1921, Taman Ujung secara resmi digunakan dan oleh pemerintahan Belanda saat itu diberi julukan water palace.

Taman Ujung merupakan kesatuan tempat di mana terdapat 3 buah kolam besar. Kolam yang berada di sebelah selatan letaknya terpisah dengan 2 kolam lain di utara dan luasnya sekitar 50 x 20 meter persegi. Pemandangan alam yang terlihat di Taman Ujung sangat mempesona, pemandangan di sebelah timur laut terdapat bukit Bisbis, sebelah selatan terlihat pantai Ujung dengan birunya air laut, pada bagian barat pemukiman penduduk, sedangkan pemandangan di bagian timur adalah persawahan dan ribuan pohon kelapa. Pada kolam yang berada di selatan terdapat bale bengong yang letaknya menjorok ke kolam sehingga terlihat seperti mengambang. Bale ini dibangun tanpa dinding, beratapkan genteng, dan berlantai keramik. Sedangkan dua kolam lain yang berada di sebelah utara dihubungkan dengan sebuah jembatan. Kolam-kolam tersebut luasnya hampir 2 kali lipat dari kolam yang ada di selatan.

Pada bagian tengah kolam terdapat sebuah tempat peristirahatan yang disebut Taman Gili. Bagi warga setempat menyebutnya dengan Istana Gantung karena bentuk bangunannya yang menggantung di atas air dan pada bagian dindingnya terdapat relief yang menggambarkan ceritera Mahabarata dan Ramayana. Struktur bangunan ini sangat khas yang merupakan perpaduan arsitektur Bali dan Eropa. Nuansa Eropa dapat terlihat pada kaca warna-warni di dinding Taman Gili yang sama seperti desain yang ada pada gereja-gereja di Eropa. Sebagai tempat peristirahatan, Taman Gili adalah semacam gedung dengan banyak jendela pada bagian timur dan barat bangunannya. Dari jendela tersebut dapat melihat kolam sekelilingnya yang penuh dengan bunga tanjung (lotus) yang berwarna merah muda dan putih. Di sebelah barat Taman Gili terdapat sebuah bale bengong yang letaknya lebih tinggi dari Taman Gili maupun kolam. Bale ini berbentuk bulat dengan diameter sekitar 5 meter dan atapnya terbuat dari asbes putih. Bale ini semakin ke bawah semakin lebar diameternya, sehingga dari kejauhan seperti puncak kerucut. Sebagai obyek wisata, pada bagian pojok barat laut Taman Ujung terdapat pondok penginapan (cottages) yang disediakan untuk pengunjung yang ingin bermalam. Selain itu, terdapat patung warak yang di bawahnya ada patung banteng. Dari mulut kedua patung tersebut, air memancur keluar menuju kolam. Tidak jauh dari kedua patung tersebut terdapat Pura Manikan yang dibangun bersamaan dengan Taman Ujung oleh raja Karangasem. Di pura ini terdapat mata air dan kolam yang sampai kini masih digunakan oleh umat Hindu dalam upacara Metirta Yatra. Selain adanya budaya Bali dan Eropa dalam arsitektur bangunannya, pada lingkungan sekitar taman ini memperlihatkan keharmonisan umat beragama. Karena di seberang Taman Ujung terdapat sebuah mesjid dan penduduk di sekitarnya yang umat Islam ikut pula menjaga keberadaan taman ini.

Taman Ujung mengalami beberapa peristiwa yang menyebabkan kondisinya menjadi rusak. Pada masa pendudukan Jepang di mana pagar besi taman ini mengalami kerusakan karena dicabut untuk dijadikan senjata perang. Kerusakan yang terparah ketika terjadi letusan Gunung Agung pada tahun 1963, gempa bumi di Seririt, Buleleng pada tahun 1976, sehingga hampir seluruh kondisi Taman Ujung menjadi hancur. Dan pada tahun 2000, Taman Ujung dibangun kembali (renovasi) oleh Puri Karangasem bersama Dinas Kebudayaan Bali dengan bantuan dana dari Bank Dunia.

Taman Ujung yang luasnya sekitar 10 hektar terletak di sebelah tenggara kota Amlapura yang berjarak sekitar 10 km atau dari ibukota Denpasar berjarak sekitar 90 km dan jika ditempuh dari Kota Denpasar menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Dalam 2 jam perjalanan anda akan melihat pemandangan daerah pedesaan yang masih alami dan asri.

 

 

 

Read Full Post »

Goa Gajah Bali

Kabupaten Gianyar adalah sebuah Kabupaten yang mendapat julukan “Bumi Seni”. Kota Gianyar terkenal dengan berbagai macam keseniannya seperti Tari Barong, Tari Kecak, Seni Kerajinan tangan, dan banyak lagi yang tidak cukup untuk disebutkan satu persatu. Selain terkenal dengan keseniannya, Kota Gianyar juga terkenal dengan berbagai macam peninggalan sejarah Kerajaan Bali Jaman dulu yang bernilai tinggi. Dan Goa Gajah adalah salah satu objek wisata sejarah yang berada di Kabupaten Gianyar.

Goa Gajah terletak kira-kira 2km sebelah tenggara Ubud, tepatnya di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar atau sekitar 27km dari Kota Denpasar. Situs peninggalan Goa Gajah dibangun pada abad ke-11 pada masa dinasti Udayana Warmadewa dan pertama ditemukan oleh arkeolog Belanda,Prof.Gorris dan Eting pada tahun 1923 setelah berabad-abad tertutup tanah. Goa ini berbentuk huruf T yang di dalamnya terdapat arca Trilingga yaitu Siwa,Sada Siwa dan Prama Siwa yang dipercaya sebagai lambang kesuburan dan juga Arca Ganesha yang dipercaya sebagai Dewa penyelamat dan pelindung ilmu pengetahuan. Di sekitar pelataran goa terdapat kolam pemandian dengan pancuran tujuh patung bidadari yang sedang memegang air suci. Ketujuh pancuran ini merupakan lambang tujuh sungai suci yang ada di India.

Dari mana asal kata Goa Gajah? Kata ini sebenarnya berasal dari Lwa Gajah, sebuah kata yang muncul pada lontar Kertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca sekitar tahun 1365 M dan dibangun pada sekitar abad ke-11. Seperti halnya nasib situs-situs bersejarah lainnya, situs ini juga pernah tertimbun tanah sebelum akhirnya ditemukan kembali pada sekitar tahun 1923. Goa Gajah sendiri telah mulai menampakkan keindahannya dari ketinggian karena memang posisinya yang berada dibawah. Setelah mendekat di bibir goa, maka pengunjung bisa langsung menikmati keindahan pahatan mulut goa dengan gaya khas Bali yang melambangkan hutan lebat dan makhluk hidup penghuninya.

Dalam Agama Hindu ada sebuah filsafat “Tri Hita Karana” yang artinya kurang lebih seperti ini “Tiga Hal Yang Membuat Dunia ini Harmonis” yang Pertama Hubungan manusia dengan Penciptanya, Kedua Hubungan Manusia dengan sesama Manusia dan yang ketiga adalah Hubungan Manusia dengan Alam Semesta beserta dengan isinya yang didasari pada Dharma. Selamat Berwisata.

Read Full Post »

Jika anda berkunjung ke Bali, mungkin kurang affdoll rasanya jika tidak berkunjung ke Pulau-pulau kecil yang ada di dekat pulau Bali meliputi Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Ketiga pulau ini seperti adiknya Pulau Bali yang juga menyimpan berbagai macam keindahan alamnya salah satunya adalah “Goa Gala”. Objek wisata Goa Gala terletak di Pulau Nusa Lembongan Bali. Untuk menujun ke Nusa Lembongan anda bisa menggunakan spead boat atau kapal elit Bali Hai Cruise.

Goa Gala adalah sebuah gua buatan yang cukup unik di pulau ini. Gua ini terdapat di bawah tanah dalam batu kapur yang terdapat di Pulau Nusa Lembongan. Uniknya, gua ini merupakan tempat tinggal dari seorang pertapa yang bernama Made Byasa yang dibuat selama sekitar 15 tahun dengan peralatan yang sederhana. Pada tahun 1961 hingga 1976 seorang pertapa yang bernama Made Byasa membuat gua di dalam liang batu kapur di Pulau Nusa Lembongan, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Pekerjaan Made Byasa adalah seorang mangku dalang, petani, petani dan juga pertapa. Made Byasa membuat gua tersebut selama kurang lebih 15 tahun hanya dengan manggunakan peralatan yang sangat sederhana pada waktu itu yaitu linggis. Ia menggali gua ini sebagai rumah tinggal di bawah tanah dalam liang batu kapur.

Seperti rumah pada umumnya, dalam rumah tinggal Made Byasa ini terdapat ruang tamu, dua buah kamar tidur, kamar mandi, sumur dan dua buah dapur. Karena berada dalam batu kapur, maka seluruh ruangan memiliki dinding batu kapur. Luas dari rumah bawah tanah ini sekitar 500 meter persegi. Untuk masuk ke gua ini terdapat tujuh pintu masuk. Gua ini juga memiliki tiga lubang ventilasi untuk sirkulasi udara di dalam gua buatan tersebut. Pintu masuk ke Goa Gala cukup sempit dan harus turun ke bawah tanah dengan anak tangga sedalam kurang lebih 2 meter. Di dalam Goa Gala Anda dapat menyusuri rumah bawah tanah ini dalam lorong yang cukup gelap. Namun di beberapa sudut gua ini telah dipasang lampu penerang sehingga Anda dapat melihat ke berbagai ruangan yang terdapat di dalam Goa Gala. Ketinggian di dalam rumah bawah tanah ini tidak begitu tinggi, yaitu antara 1 hingga 2 meter, sehingga Anda akan lebih sering membungkuk di dalam Goa Gala ini. Di beberapa ruangan, ketinggian ruang bisa mencukupi untuk berdiri dan mengambil foto di dalam gua ini. Udara di dalam gua ini terasa sejuk.

Di gua ini juga terdapat relief yang menggambarkan proses penyelesaian Goa Gala. Terdapat beberapa simbol seperti manusia, gajah, pintu gerbang, dan kura-kura yang dalam kalender Hindu mempunyai arti yaitu 1898 pada tahun Saka atau dalam penanggalan umum jatuh pada tahun 1976 yaitu tahun ketika Goa Gala selesai dibangun. Kini Goa Gala menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang menarik di Pulau Nusa Lembongan. Selain itu, beberapa wisatawan juga melakukan meditasi di dalam gua ini. Goa Gala sendiri masih tetap dilestarikan seperti pada awalnya tanpa dilakukan renovasi.

Tertarik untuk mengunjungi Goa Gala ini sambil menikmati keindahan alam Nusa Lembongan yang eksotis? dan semoga liburan anda lebih menyenangkan setelah menikmati keindahan Nusa Lembongan. Selamat berwisata.

Read Full Post »

Older Posts »