Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2012

Perancak merupakan sebuah daerah yang letaknya berada di Bali Barat. Di ujung barat Desa Perancak ini terdapat sebuah pura yang diberi nama Pura Perancak (sesuai nama desanya). Pura ini menghadap ke sebuah sungai yang memiliki keindahan panorama dengan sungai yang besar dan berliku sehingga menimbulkan impresi yang kuat. Air sungainya sangat tenang menyerupai air kolam sehingga tak membahayakan dan malah menyejukan. Sementara di seberang sungai tampak perladangan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pantai yang berjejer.

Kurang lebih 250 meter di sebelah selatan Pura Purancak terbentang lautan yang membiru, dan di kejauhan seberang lautan tampak gugusan pulau Jawa bagian timur. Sementara di sebelah kanan muara sungai kelihatan rumah-rumah tradisional yang menjorok ke laut disertai dengan deretan pohon-pohon kelapa melambai-lambai karena tiupan angin laut. Suasana yang demikian merupakan panorama yang indah dan menarik membuat mata yang memandang enggan untuk berkedip.

Meskipun wisata reliji namun pura ini banyak pula dikunjungi oleh berbagai wisatawan baik domestik maupun asing. Biasanya pura ini banyak dikunjungi pada hari-hari libur seperti Minggu atau liburan anak sekolah. Terlebih sekarang di sekitar Perancak terdapat sebuah objek wisata baru bernama Taman Wisata Tibukleneng Perancak yakni taman satwa yang banyak menghadirkan berbagai binatang seperti buaya, kanguru, cenderawasih, merak, dsb.

Wisatawan yang datang juga bisa menginap karena telah disediakan tempat untuk beristirahat (bungalow). Jika wisatawan ingin lebih mengeksplorasi keindahan sekitar maka bisa melakukannya dengan menyusuri sungai yang berada di sekitar Pura perancak dimana nelayan banyak yang menyewakan jukung (perahu) yang biasa digunakan untuk lalu lintas sungai. Sekitar satu kilometer ke arah timur laut dari pura dengan mengikuti jalan raya, pengunjung akan menemukan papan yang bertuliskan “The road to Buffalo face“, dan dari sini membelok kanan ke arah utara maka akan sampai di Taman Wisata Tibukleneng Perancak.

Lokasi Purancak kira-kira 10 km Barat Daya Desa Tegalcangkring, termasuk wilayah Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana. Dari Kota Denpasar menempuh jarak 96 km mengikuti jalan raya jurusan Denpasar-Gilimanuk.

Read Full Post »

Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.

Pura Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.

Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.

Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara — sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang — maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. “Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini,” kata Simba.

Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.

Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ”Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” susunan Ketut Ginarsa.

Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ”Dwijendra Tatwa” karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki.”

Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, harimau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Namun saat itu Pura-pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada batu-batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan karena warga tak berani masuk ke dalam hutan. “Karena tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin masuk ke pedalaman,” katanya.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran, tak bisa dipisahkan. Dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.

Read Full Post »

Pura Dalem Melanting terletak di pantai utara pulau Bali, wilayah dari desa Banyupoh, kecamatan Grokgak kabupaten Buleleng, sekitar 50 Km ke arah barat dari kota Singaraja. Pura Dalem Melanting menjadi satu kesatuan dengan Pura Pulaki karena memiliki sejarah yang sama, keduanya terkait dengan kisah Danghyang Niarrtha.

Berdasarkan lontar Dwijendra Tattwa dan Babad Catur Brahmana, pendirian Pura Dalem Melanting terkait dengan peristiwa ketika Ida Ayu Swabhawa menerima ilmu keparamarthan dari Danghyang Nirartha yang dapat melepaskan atau mengakhiri dosa, sehingga Ida Ayu Swabhawa disebut “Dewi Melanting” atau “Bhatari Melanting”,  serta ikut dalam perjalanan suci (tirthayatra) Danghyang Nirartha yang dilakukan pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong (1460-1552 M) di Bali.

Fungsi Pura Dalem Melanting yaitu sebagai tempat suci untuk memuja keagungan Sang Hyang Widhi Waca , memuja Dewi Melanting untuk memohon anugerah kesuburan , kemakmuran dan keselametan. Pura Melanting mempunyai kedudukan sebagai  Pura Kahyangan Jagat dan dipandang sebagai induk dari Pura Melanting yang pada umumnya terdapat di pasar di daerah Bali.

Read Full Post »

Pura Puncak Penulisan atau dikenal sebagai Pura Tegeh Koripan serta ada juga yang menyebut Pura Pamojan (panah raja) adalah salah satu pura tertua di Bali. Lebih dikenal sebagai Pura Puncak Penulisan sebab pura suci ini terletak di puncak Bukit Penulisan dengan ketinggian sekira 1.745 m dpl. Secara administratif, pura yang lebih banyak dikunjungi wisatawan karena daya tarik historisnya ini berada di kawasan Desa Sukawana, Kintamani, Bangli.

Pura Puncak Penulisan adalah pura yang bercorak asli Bali age atau Bali mula. Hal tersebut karena bentuknya tidak seperti pura Bali umumnya sebagai hasil akulturasi dengan kebudayaan Jawa yang memiliki sanggaran, meru dan gedong. Oleh karena itulah, Pura Puncak Penulisan dinyatakan sebagai “asli” Bali. Usia pura ini bahkan belum dapat ditelusuri secara pasti sehingga memang sangat bernilai bagi budaya, agama, dan sejarah Bali. Pada zaman dahulu pura ini digunakan untuk bersemedi para raja di sekitarnya sekaligus sebagai representasi sebuah kehidupan yang teguh (tegeh kauripan).

Berada pada puncak Bukit Penulisan dengan titik yang lebih tinggi dari Gunung Batur dan Danau Batur membuat pura ini menjadi tempat dengan pemandangan Gunung Batur dan sekitarnya dari sisi yang berbeda, yaitu tampak atas. Tentu saja, panorama alam nan megah tersebut bukan satu-satunya suguhan yang menjadi daya tarik pura yang serupa situs megalitikum ini. Berada di pura yang fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa (sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Kuasa), Anda akan pula menikmati wisata sejarah Hindu Bali.

Dari struktur bangunannya, pura yang sebagian besar menghadap ke Selatan, kecuali pura utamanya yang menghadap ke Barat ini mengadopsi dua konsep. Pertama, merefleksikan bangunan pada masa megalitik yang nampak pada wujud bangunan teras piramida bertingkat (konsep Gunung Suci). Kedua, konsep Sapta Loka yang dapat dilihat dari bentuk bangunan pura yang bertingkat tujuh dimana setiap tingkat (teras) dihubungkan dengan tangga.

Pada tingkat ketiga (Swah Loka) terdapat dua palinggih kecil yang disebut Pura Dana dan Pura Taman Dana. Pada tingkat selanjutnya (Maya Loka) dapat ditemukan Pura Ratu Penyarikan (di sebelah Timur jalan): sementara, pemujaan keluarga Dadya Bujangga dapat ditemukan di sebelah Barat. Pada tingkat keenam (Tapa Loka) terdapat Pura Ratu Daha Tua. Di tingkat ketujuh (Sunya Loka) yang merupakan pucak Pura Penulisan dimana terdapat palinggih pangaruman, piyasan, serta gedong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan purbakala.

Mengenai kapan waktu pembangunan pura ini belum dapat dipastikan. Pendapat sementara pura ini perkirakan dibangun tahun 300 M (zaman perunggu) kemudian dilanjutkan pada abad ke-10 hingga tahun 1343 M (mendekati masa berakhirnya kekuasaan Majapahit). Dugaan tersebut didasarkan pada temuan artefak dan benda-benda purbakala di kompleks pura yang mengundang banyak peneliti, ilmuwan, dan sejarawan untuk menelitinya.

Dr WF Sturterheim misalnya, dalam bukunya yang berjudul “Oudheden Van Bali I-II” (1929-1930) berkesimpulan bahwa artefak dan benda purbakala yang ditemukan di kompleks pura berasal dari era kerajaan Bali Kuno. Kesimpulan ini didasarkan pada penemuan beberapa prasasti yang berhubungan dengan kehidupan Bali masa itu, yaitu prasasti berangka tahun 999 saka (1077 M) dan tahun 1352 Saka (1436 M). Penemuan arca lelaki dan perempuan yang di bagian belakangnya memuat prasasti sebagai pratista (pelinggih roh suci) Raja Udayana Warmadewa dengan Gunapriyadarmapatni memperkuat simpulan tersebut. Konon, raja ini berkuasa di kerajaan Bali pada tahun 911-933 Saka. Arca lain yang berada di belakangnya, yaitu arca wanita dengan sikap berdiri memuat nama Batari Mandul yang diperkirakan sebagai pratista permaisuri Raja Anak Wungsu yang tak berputra.

Penemuan lain yang mendukung dugaan bahwa pura Puncak Penulisan adalah pura peninggalan Bali kuno adalah penemuan sepasang arca setinggi 92 cm, bermahkota, mengenakan anting berbentuk pilinan rambut. Arca yang ditemukan pada tahun 1922 oleh Tim Peneliti Fakultas Sastra Unud itu memuat prasasti bertahun 933 Saka (1026 M) yang dipahat oleh Mpu Bga Anatah. Ada pula arca wanita berdiri yang terbuat dari batu padas  setinggi 154 cm. Pada bagian belakang sandaran arca terpahat huruf Kadiri Kuadarat bertuliskan Batari Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M). Prasasti ini dikategorikan masuk pada periode Bali Kuno (abad ke-11).

Selain itu, ditemukan pula sebuah arca yang diperkirakan berasal dari masa Bali Madya (abad ke-13) berupa arca laki-laki berdiri dengan sikap tangan kanan dijulurkan ke bawah sejajar badan dan tangan kiri ditekuk ke depan. Temuan lain dari masa Bali Madya adalah arca perwujudan Dewa Brahma, dengan atribut empat muka, atau caturmuka. Di bagian paling atas Pura Puncak Panulisan, ditemukan juga arca Dewa Ganesa yang bercirikan berkepala gajah, berbadan manusia, dan bertangan empat yang juga dikategorikan dalam masa Bali Madya.

Selain arca tersebut di atas, pura ini menyimpan banyak lingga berpasangan dan ratusan lingga tak berpasangan dengan bentuknya berbeda-beda. Lingga tersebut merupakan perwujudan Dewa Siwa. Terdapat pula batu berhiaskan Bulan dan Matahari yang dianggap sebagi sebuah perwujudan Batara Brahma, miniatur candi sebagai simbol gunung tempat bersemayamnya para dewa, dan lain sebagainya.

Dengan sejumlah artefak kuno peninggalan zaman prasejarah hingga masa pengaruh Hindu, pura ini serupa situs megalitikum yang kini berfungsi utama sebagai tempat ibadah. Fungsi lain yang menambah daftar keunikan pura yang layak disambangi ini adalah sebagai tempat tujuan wisata dan juga area penelitian para ilmuan atau pun sejarawan yang tertarik mengungkap sejarah dibalik keberadaan pura tempat diadakannya upacara “Pengurip Jagad Bali Kabeh”. Upacara ini adalah upacara yang diadakan setiap 700 tahun sekali dengan salah satu ritual utamanya adalah Kebo Roras, yaitu prosesi menanam kerbau sebanyak 12 ekor tepat di tengah-tengah halaman Pura Puncak Penulisan.Upacara ini terakhir digelar pada 22 Oktober hingga 2 November 2010 yang lalu.

Read Full Post »

Pada kompleks Pura Kadharman Kutri terdapat bukti yang dinamakan Bukti Dharma. Di puncak bukit tersebut terdapat arca Dewi Durga Mahisasura. Arca tersebut adalah arca perwujudan Mahendradatta yang juga bernama Gunapriya Dharma Patni, permaisuri Raja Udayana Warmadewa. Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh putra bungsunya yang bernama Anak Wungsu, kedua orang tuanya yang telah almarhum disebut “Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumahi Burwan Bhatara Lumahi Banyu Wka”. Atas dasar prasasti itulah diketahui bahwa Gunapriya Dharma Patni itu dicandikan di Burwan, sedangkan Udayana dicandikan di Banyu Wka. Daerah Burwan sampai saat ini masih dikenal dan Kutri pada masa lampau tampaknya termasuk daerah Burwan. Banyu Wka sampai saat ini belum diketahui secara pasti tempatnya.

Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu yang antara lain menyebutkan Bhatari Lumahi Burwan maka arca Dewi Durga yang terdapat di bukit Dharma Kutri adalah arca perwujudan dari Gunapriya Dharma Patni. Permaisuri Raja Udayana tersebut diduga wafat sekitar tahun 1011 Masehi. Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa arca Dewi Durga Kutri berasal dari tahun 1023 Masehi.

Perkiraan ini berdasarkan Nagarakertagama yang menguraikan bahwa upacara saddhabagi seorang raja dilaksanakan 12 tahun setelah raja wafat. Bersamaan dengan pelaksanaan upacara Sraddha itu didirikan pula candi serta perwujudan bagi raja tersebut.

Read Full Post »

Relief kuno ini terletak di Dusun Batulumbang, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar Bali. Kurang lebih 26 Km dari Denpasar, dan tidak jauh dari obyek wisata Pura Goa Gajah. Untuk mencapai situs Obyek Wisata Yeh Pulu ini, anda mesti berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak dengan pemandangan persawahan yang indah.Ada tempat wisata yang menarik dan unik, serta berdaya magis, yakni Relief Yeh Pulu.

Relief Yeh Pulu yang merupakan objek wisata sejarah berupa pahatan-pahatan kuno pada dinding bukit cadas. Relief ini memiliki panjang lebih kurang 25 meter dengan ketinggian sekitar 2 meter dan diperkirakan dibangun pada abad ke-14 atau ke-15. Pertama kali ditemukan oleh seorang punggawa Kerajaan Ubud pada tahun 1925. Nama Yeh Pulu berasal dari dua kosakata yakni “Yeh” yang memiliki makna air dan “Pulu” yang bermakna gentong.

Namun demikian, jika diamati antara nama Yeh Pulu dengan pahatan reliefnya sungguh tak ada kaitannya karena pahatan yang tercetak tersebut tidak sama sekali berbentuk gentong ataupun semacamnya. Diteliti lebih jauh lagi, nama Yeh Pulu diambil dari gentong yang berdiri tepat di tengah sumber air yang disucikan yang berada di sebelah barat relief.

Relief Yeh Pulu paling tidak memiliki lima fragmen dengan kandungan cerita yang berbeda-beda. Namun relief-relief tersebut memiliki garis besar yakni bercerita tentang Krishna sebagai inkarnasi Bhatara Wisnu. Adapun penelitian mengenai situs ini sampai kinipun masih belum dihentikan. Hal demikian menandakan bahwa di lokasi ini masih banyak hal-hal yang belum tergali. Pahatan-pahatan lain selain yang tampak di dinding tebing, yakni di ceruk-ceruk Raja Bendahulu sebelum gugur dalam pertempuran dengan Kerajaan Majapahir yang terjadi pada tahun 1343 M. Yeh Pulu ialah salah satu monumen kuno di Bali dengan didalamnya banyak terdapat pengetahuan seni yang masih terawat hingga saat ini. Yeh Pulu juga banyak menyimpan beragam dimensi didalamnya.

Untuk melihat Relief Yeh Pulu ini, pengunjung harus melalui jalan kecil atau setapak yang panjang namun sangat terpelihara kebersihannya sehingga terkesan terawat dan apik, dimana kebersihan objek wisata ini juga menjadi tanggung jawab Krama Subak. Dengan hamparan sawah yang luas maka dapatlah kita simpulkan bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk sekitar adalah bertani, namun demikian banyak juga yang menjadi pedagang dan karyawan.

Read Full Post »

Pura Penataran Sasih merupakan pura penataran sekaligus sebagai pemujaan awal terjadinya kehidupan di dunia. Pura Penataran Sasih merupakan salah satu pura yang memiliki jejak sejarah yang sangat panjang. Pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Intaran, Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar ini juga lebih banyak diketahui dari berbagai mitos yang ada. Salah satunya adalah ”bulan Pejeng” di Pura Penataran Sasih. Nekara perunggu berukuran 186,5 cm ini ada yang dikaitkan dengan Kebo Iwa, seorang Mahapatih Kerajaan Bali Kuno sebagai subang (anting-anting), yang konon dikalahkan oleh Gajah Mada dengan taktik licik guna menguasai Bali. Selain itu, keberadaan nekara perunggu tersebut dikaitkan dengan mitos keberadaan ”bulan Pejeng” tersebut dengan kisah kencing maling meguna.

Pura Penataran Sasih berasal dari nama bulan (sasih=bulan). Nekara ini dimungkinkan sebagai sarana upacara untuk memohon hujan agar hutan-hutan menjadi rindang, menumbuhkan tanaman bahan makanan dan obat-obatan, sungai mengalirkan air yang jernih, dan adanya bulan bersinar sejuk merupakan panorama alam yang indah dan memukau. Sumber-sumber tradisional menyebut, benda ini adalah bulan yang dahulu kala jatuh dari langit, yang membuat Desa Pejeng menjadi terang-benderang sepanjang hari, sehingga para pencuri tidak dapat beraksi. Para pencuri jadi marah, lalu bulan itu dikencingnya, sehingga tidak bersinar lagi sampai sekarang. Sementara itu, ada yang menceritakan bahwa Bulan Pejeng adalah subang Kebo Iwa, seorang tokoh legendaris yang dengan segala kesaktiannya dapat memahat sejumlah kekunaan seperti candi tebing Gunung Kawi di Tampaksiring. Dari beberapa referensi dan sumber yang ada menyebutkan bahwa Pura Penataran Sasih merupakan pura tertua yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno. Seorang arkeologi, R. Goris dalam buku “Keadaan Pura-Pura di Bali” menyebutkan bahwa pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno terletak di Bedulu, Pejeng.

Pura Penataran Sasih juga merupakan pura penataran sekaligus sebagai pemujaan awal terjadinya kehidupan di dunia. Sedangkan jika berpijak dari hasil penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno di areal pura, maka diduga Pura Penataran Sasih telah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali. Diperkirakan hal tersebut setara dengan zaman Dongson di negeri Cina, sekitar 300 tahun Sebelum Masehi. Sementara itu adanya Hindu masuk ke Bali diperkirakan sekitar abad ke-8. Nekara perunggu yang terdapat di Pura Penataran Sasih mengandung nilai simbolis magis yang sangat tinggi. Pada nekara tersebut terdapat hiasan kodok muka sebagai sarana penghormatan pada leluhur sebagai pelindung. Dalam kaitannya ini simbolis magis tersebut berfungsi sebagai media untuk memohon hujan.

Di samping nekara perunggu, di Pura Penataran Sasih juga terdapat peninggalan berupa pecahan prasasti yang ditulis pada batu padas. Hanya tulisan yang mempergunakan bahasa Kawi dan Sansekerta itu tidak bisa dibaca karena termakan usia. Namun, dari hasil penelitian yang dilakukan, ada kemungkinan pecahan prasasti tersebut berasal dari abad ke-9 atau permulaan abad ke-10. Di Pura Penataran Sasih juga tersimpan pula beberapa peninggalan masa Hindu masuk ke Bali, seperti prasasti dari batu yang berlokasi di jeroan di bagian selatan. Prasasti tersebut berkarakter huruf dari abad ke-10. Di bagian jaba pura, di sebelah tenggara ada fragmen atau bekas bangunan memuat prasasti beraksara kediri kwadrat (segi empat) yang menyebutkan Parad Sang Hyang Dharma yang artinya bangunan suci.

Pura Penataran Sasih sendiri terdiri atas lima palebaan, meliputi Pura Penataran Sasih sebagai pura induk. Bagian utara terdapat Pura Taman Sari, Pura Ratu Pasek, dan Pura Bale Agung. Sedangkan untuk bagian selatan terdapat Pura Ibu. Untuk areal Pura Penataran Sasih terutama di jeroan terdapat beberapa pelinggih. Dari pintu masuk, pada sisi jaba tengah terdapat bangunan Padma Kurung sebagai tempat penyimpenan Sang Hyang Jaran. Deretan bagian timur terdapat bangunan pengaruman yang biasanya difungsikan sebagai tempat menstanakan simbol-simbol Ida Batara dari Pura Kahyangan Tiga di seluruh Pejeng. Pada bagian utara balai pengaruman terdapat pelinggih Ratu Sasih. Di samping itu, ada pula pesimpangan Ida Batara Gana dan gedong pasimpangan Ida Batara Brahma di deret selatan. Sementara itu, pada bagian utara terdapat gedong pasimpangan Batara Wisnu, dan di bagian barat terdapat gedong pasimpangan Batara Mahadewa.

Untuk piodalan di Pura Penataran Sasih terbagi dalam dua bagian. Tiap 210 hari tepatnya Redite Umanis, wuku Langkir, berlangsung upacara yang dinamakan upacara panyelah yang berlangsung selama tiga hari. Sedangkan untuk karya agung berlangsung pada purnama kesanga, nemu pasah.

Read Full Post »

Older Posts »