Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

Pulau-Nusa-Lembongan

Nusa Lembongan adalah pulau terluar dari wilayah Bali, yang merupakan salah satu objek wisata di Bali, yang menjadi tujuan liburan wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan Pantai di Nusa lembongan dan biota bawah lautnnya begitu menakjubkan. Dengan bentangan pantai berpasir putih, air laut yang jernih dan keindahan terumbu karang beserta biota laut yang ada didalamnya sangat cocok sekali untuk wisata diving, snorkeling begitu juga untuk selancar/ surfing. Tentunya liburan ke Nusa Lembongan salah satu pilihan wisata di Bali, yang ditonjolkan di sini objek wisata pantai, diving, snorkeling. Ataupun wisatwan bisa sekedar jalan-jalan di tepi pantai, melihat perkampungan dengan pembudidayaan rumput laut, mengunjungi Gala-Gala yaitu rumah bawah tanah (Underground House), goa sarang burung walet Batu Melawang, art shop center Buanyaran, rawa-rawa Pegadungan, tempat romantis Kolong Pandan Sunset Park, dan ada banyak pilihan hotel tempat menginap di sini, sehingga menambah lengkap pilihan Liburan di Bali.

Pulau Nusa Lembongan terletak di tiga deretan pulau terluar Bali, yaitu Pulau Nusa Penida, Ceningan dan Nusa Lembongan. Objek wisata di Bali ini termasuk wilayah administrative Kabupaten Kelungkung.

Read Full Post »

Bali Bird Park - Burung Dara

Bali Bird Park terletak di Desa Singapadu, Gianyar – Bali. Wisata ini sangat cocok lagi bagi pecinta satwa burung dan bagi anak-anak untuk lebih mengenal dan menyayangi lingkungan dan satwa sekitarnya. Lokasinya di jalur objek wisata Batubulan dan Kintamani, jadi sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja.

 Objek wisata Taman Burung Bali Bird Park ini memiliki sekitar 1000 ekor satwa unggas dari 250 spesies, dengan luas 2 hektar, anda bisa melihat cara pengembangbiakan satwa unggas ini, dari mulai bertelur sampai menetas. Untuk kenangan anda berkunjung ke objek wisata ini anda bisa berphoto sama burung-burung cantik dan eksotik. Terdapat pula sejumlah telaga. Selain ikan dan koleksi tanaman air, juga dihiasi burung air, angsa hitam, flaminggo, pelikan, dan lain-lain. Di tengah telaga terdapat teratai raksasa Victoria regia yang sengaja didatangkan dari Florida Amerika Serikat.  Hutan yang ada di sekitar Taman Burung ini dirancang seperti hutan hujan, sehingga suasana di sini sangat menyejukkan, berkeliling menelusuri jalan setapak yang berliku, tidak akan merasa lelah apalagi jemu karena yang disajikan dengan suasana yang harmonis antara manusia, satwa dan lingkungan. Ada juga Jalak Bali, satwa yang langka dan dilindungi, yang merupakan salah satu ikon Bali. Tingkat kunjungan pada hari-hari biasa ke objek wisata Taman Burung ini antara 100 – 200 orang, dan peningkatan kunjungan diakhir pekan atau saat liburan.

Read Full Post »

Desa Tohpati

Desa Tohpati yang terletak sekitar 10 menit dari pusat kota Denpasar ini terkenal dikalangan wisatawan sebagai pusat dari kerajinan batik di Bali. Memasuki daerah ini, di kanan kiri terlihat adanya berbagai macam plang yang bertuliskan bahwa mereka menyediakan berbagai macam kain yang lembaran ataupun yang sudah dibuat baju atau kerajinan lain. pusat batik bali bidadari ini punya koleksi yang lumayan lengkap dan point plusnya bahwa mereka bahkan punya beberapa orang yang bekerja langsung memperagakan bagaimana mereka membuat batik. Jadi, bukan cuman di Jogja saja kita bisa melihat bagaimana cara orang membatik. Apabila Jogja terlalu jauh, mungkin datang ke Tohpati merupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana batik dibuat. Selain melihat cara membuat batik, ada juga petunjuk dalam bentuk selebaran dan display batik yang banyak begitu banyak di dalam ruangan dalam.
Ada kain dengan kualitas prima sampai dengan kualitas yang standar. Ada baju, gaun tidur, ataupun dress dress batik yang biasa dipakai sebagai baju liburan. Baju yang sedikit resmi tersedia juga untuk para lelaki penyuka batik. Koleksinya lengkap sampai lulisan batik, tas, kipas dan berbagai barang klain. harga yang ditawarkan memang mahal tapi apabila ingin membeli sesuatu ingat untuk menanyakan adanya potongan harga. Barang yang tersedia disini memang rata rata berkualitas bagus dan wajar saja apabila harganya agak mahal.

Read Full Post »

Bendungan Benel

Bendungan Benel yang terletak di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. hal ini dikarenakan karena persediaan air untuk pertanian hanya tersedia pada saat musim hujan. Adapun maksud dari pembuatan bendungan ini adalah sebagai sarana irigasi didaerah Jembrana.

Indahnya panorama alam disekitar Bendungan Benel menjadi inspirasi untuk menjadikan tempat ini sebagai salah satu objek wisata di Jembrana. Bendungan Benel dapat dikatakan besar dan luas, dikelilingi hutan lindung yang hijau dan alami membuat udara di Bendungan ini sangat sejuk, hal ini juga karena letaknya di daerah pengunungan. Pada bagian bawah bendungan anda dapat melihat hamparan sawah yang luas dengan terasering nya sehingga sangat cocok dijadikan tempat untuk mengusir kepenatan saat anda jenuh dengan kehidupan di kota.

Pembuatan bendungan ini menghabiskan dana sekitar 107 milyar yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengairan untuk lahan pertanian selama musim kemarau, serta dapat memenuhi juga kebutuhan akan air bersih untuk rumah tangga.  Bendungan ini selain dapat mengairi area pertanian seluas 1.047 hektar juga menghasilkan air yang sangat banyak sekitar 64 liter perdetik.

Selain sebagai irigasi dan objek wisata alam, bendungan ini pun digunakan untuk usaha perikanan air tawar, seperti ikan mujair, ikan gabus dan ikan air tawar lainnya sehingga dapat juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk menyalurkan kegemaran akan memancing.

Bendungan Benel mulai dibangun pada tahun 2006 dan dapat terselesaikan pada tahun 2010, oleh presiden Republik Indonesia yaitu DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 26 januari 2010

Keberadaan bendungan ini sebagai objek wisata alam telah mampu menarik para  wisatawan untuk mengunjungi tempat ini walau letaknya masuk kedalam pedesaan. Saat ini fasilitas yang tersedia adalah lahan parkir serta toilet, namun pada hari- hari libur ada juga masyarakat sekitar yang berjualan makanan dan minuman.

Bendungan Benel ini terletak kurang lebih 100 km  dari Kota Denpasar sehingga waktu yang diperlukan untuk sampai ke tempat ini sekitar 2 jam, namun demikian perjalanan anda tak akan membosankan karena indahnya pemandangan alam Jembrana yang mengiringi sampai ke tujuan.

Read Full Post »

Pantai Segara Ayu

Pantai Segara Ayu yang berada di Banjar Taman, kelurahan Sanur. Pantai Segara Ayu bersebelahan dengan pantai Shindu. Seperti pantai Sanur, pasir pantai ini juga berwarna putih dengan gelombang yang tidak terlalu besar. Pantai ini selalu ramai dikunjungi baik wisatawan lokal maupun asing. Dari pantai ini pengunjung yang datang dapat menyaksikan indahnya matahari terbit dari cakrawala.

Pantai Segara Ayu pada tahun 2010 pernah dijadikan sebagai lokasi penyelenggara Sanur Village Festival. Selain itu bagi anda yang gemar makanan laut di pantai ini terdapat restaurant dan café yang menyediakan berbagai hidangan seafood yang begitu mengundang selera. Aktifitas yang dapat dilakukan di Pantai Segara Ayu ini antara lain: swimming, fishing, bersantai, surving, diving, snorkling dan bersantai.

Pada awalnya penduduk sekitar Pantai Segara Ayu ini sebagian besar bermata pencaharian mereka adalah nelayan. Ini bisa terlihat dengan masih adanya perahu-perahu nelayan disekitar lokasi, seiring dengan perkembangan kepariwisataan saat ini ada juga yang beralih profesi sebagai karyawan dan pedagang.

Fasilitas yang terdapat di Pantai Segara Ayu antara lain: penyewaan boat dan kano, hotel dan restaurant, café, art shop serta warung penjual makanan dan minuman. Bagi pengunjung yang ingin datang ke Pantai Segara Ayu ini diperlukan waktu kira-kira 20 menit dengan jarak tempuh lebih kurang 8 km dari Kota Denpasar.

Pantai-pantai di Bali memang indah dan menawan hati dan jika anda datang ke Bali jangan sampai di lupa untuk berkunjung ke Pantai Segara Ayu ini.

Read Full Post »

Pura mengening

Pura Mangening termasuk ke dalam salah satu pura tersebut diatas yang berada di Desa Saraseda, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura Mangening berada di lingkungan yang hening dan berhawa sejuk. Dimana Pura ini termasuk ke dalam salah satu cagar budaya yang diresmikan oleh Pemerintah Propinsi Bali berdasarkan UU No.05/1985. Bila anda berkunjung ke pura ini, maka anda akan menuruni terlebih dahulu beberapa anak tangga untuk tiba di pelataran pura, disini pengunjung akan menjumpai kolam-kolam air jernih dimana airnya berasal dari mata air yang keluar dari sela-sela akar pohon dan tebing. Sedangkan untuk tiba di bagian utama pura ini, anda harus menaiki beberapa anak tangga lagi karena letaknya yang berada di atas pelataran.

Di dalam pura ini terdapat meru tumpang tiga yang dulunya merupakan tempat ditemukannya arca berbentuk Lingga – Yoni. Sementara itu konsep Pura Mengening beracuan kepada konsep yang digunakan oleh kebanyakan pura di Bali, yaitu konsep “Tri Mandala” (Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala). Pada bagian Nista Mandala terdapat sebuah taman dengan lima pancuran air. Di bagian Madya Mandala terdapat beberapa bangunan seperti: Bale Gong, Bale Kulkul, Bale Pegambahan dan Bale Pegat. Sedangkan di bagian Utama Mandala terdapat beberapa pelinggih, diantaranya: Gedong Meru Tumpang Tiga yang merupakan istana dari Ida Batara Prasada Agung, gedong yang merupakan pelinggih Batara Gunung Kawi, Gedong Limas, Pelinggih Batara Tirta Empul, Pemaruman, Pelinggih Batara Siwa, bale Paselang, bale Pecanangan, Bale Saka Ulu dan Bale Penganteb.

Belum ada kepastian tentang sejarah Pura Mengening ini, namun menurut hasil penemuan sebuah prasada maka disimpulkan bahwa pura ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Masula-Masuli di Pejeng. Mata pencaharian penduduk sekitar pura ini sebagian besar adalah bertani, namun demikian ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan karyawan.

Dengan diresmikannya pura ini sebagai salah satu objek wisata budaya, maka untuk kenyamanan pengunjung yang datang disediakan fasilitas seperti: warung makanan dan minuman, pemandu pura serta lahan parkir yang cukup luas. Waktu yang diperlukan apabila anda ingin mengunjungi Pura Mengening ini adalah sekitar 90 menit dengan jarak tempuh kira-kira 37 km dari Kota Denpasar Bali.

Read Full Post »

Museum Neka

Museum Neka adalah museum seni rupa yang dibuat karena kecintaan seorang Wayan Suteja Neka terhadap segala bentuk seni yang ada di Bali. Baik itu seni lukis maupun seni rupa. Museum ini berada di Jalan Raya Campuhan, Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar Bali.

Museum Neka terdiri atas enam bangunan yang memajang aneka karya lukis, patung dan keris yang ditata sedemikian apik hingga menjadi satu tatanan yang menarik. pemanjangan karya seni ini dikelompokan berdasarkan thema, gaya dan prestasi sang seniman.

  • Gedung I. Bertema Ragam Gaya Seni Lukis Bali.

Gedung ini terdiri dari empat bagian ruangan. Ruangan A memamerkan hasil karya seni lukis Bali, mulai dari seni lukis klasik wayang Desa Kamasan yang bertema tradisional yang diambil dari kisah Ramayana, Mahabrata dan legenda dari Jawa dan Bali.  Ruangan B dan C memajang karya seni lukis yang sudah mendapat pengaruh dari barat yang berkembang setelah tahun 1920-an di Ubud,  yang dikenal dengan lukisan gaya Ubud. Pengaruh ini dibawa oleh Walter Spies (Jerman) dan Rudolf Bonet (Belanda), mereka memperkenalkan teknik pencahayaan, bayangan, perspekti dan anatomi. Sedangkan pada ruangan D, terdapat lukisan gaya Desa Batuan yang menampilkan perspektif rumit dengan pemandangan yang terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.

  • Gedung II. Pavilion Arie Smit.

Dibuat sebagai ucapan terima kasih karena jasa beliau dalam mengajarkan dan membina seniman di Ubud. Pavilion ini terdiri dari dua lantai, lantai atas memajang lukisan hasil karya Arie Smit dengan berbagai tema dan gaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat serta pemandangan alam dalam bentuk imajinatif. Sedangkan dilantai bawah, dipajang lukisan gaya pelukis muda  seperti Nyoman Cekra, Ketut Soki dan berapa seniman Bali masa kini yang bertema kontemporer, ekspresionisme dan abstrak.

  • Gedung III. Ruang Pameran Photo.

Di gedung ini dipajang arsip photo khusus karya Robert Koke dari Amerika, dengan warna hitam putih tentang keadaan Bali di era tahun 1930-an dan diawal tahun 1940-an sebagai dokumen tokoh seniman tari dan upacara keagamaan.

  • Gedung IV. Pavilion Gusti Nyoman Lempad.

Adalah seorang pelukis Bali yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam berkarya. Hasil lukisan Gusti Nyoman Lempad memiliki ekspresi mendalam pada kebudayaan Bali. Adapun dari ke-18 hasil karya yang dipajang, sepuluh diantaranya adalah lukisan seri Brayut, sedangkan lainnya bercerita tentang kisah Mahabhrata, cerita rakyat, dan kehidupan masyarakat Bali.

  • Gedung V. Seni Lukis Indonesia Masa Kini

Gedung ini terdiri dari lima ruangan yang di dalamnya terpajang hasil karya pelukis modern Indonesia.  Selain hasil karya pelukis modern Bali banyak juga hasil karya pelukis modern yang berasal dari luar Bali yang beraliran ekspresionisme, abstrak, serta realisme. Pada aliran realisme, Abdul Azis menunjukkan kemampuannya membuat lukisan yang tampil secara Trompel’oeil (menipu mata) dalam karyanya yang berjudul “ Saling Tertarik”.

  • Gedung VI. Penggabungan Seni Lukis Barat dan Timur

Gedung yang terbagi atas dua lantai ini diperuntukan bagi hasil karya pelukis kenamaan baik itu pelukis Indonesia maupun Luar Negeri. Lantai bawah gedung memajang lukisan karya pelukis-pelukis Indonesia yang menerima anugerah seni dari pemerintah, seperti : Affandi, Soedjono, Srihadi Soedarsono, Widayat, Nasyah Djamin, Bagong Kussudiardjo, Ahmad Sadali serta Abas Alibasyah. Sedangkan di lantai atas dipamerkan lukisan-lukisan hasil karya pelukis ternama Luar Negeri, antara lain: Antonio Blanco, Rudolf Bonet, Miguel Covarrubias, dan lain-lain.

Selain keenam gedung tersebut diatas, Museum Neka juga memiliki sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan koleksi 272 bilah keris yang dikumpulkan lebih dari 50 tahun. Keris-keris ini merupakan hasil pembuatan para empu di masa lalu dan masa kini dan tertata rapi berdampingan dalam etalase kaca.

Museum Neka dibuat sejak tahun 1976, namun baru diresmikan pada tanggal 7 Juli 1982 oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef.

Dengan dijadikannya Museum Neka sebagai salah satu objek wisata edukasi, maka pihak museum melengkapinya dengan fasilitas ruang tunggu, balai pertemuan, kedai makanan dan minuman, toilet, serta area parkir yang luas.

Read Full Post »

Older Posts »